Menjadi Pengikut Kristus yang Sejati
- Ps. Supri

- Sep 4, 2022
- 2 min read
Updated: Sep 6, 2022
Ibadah Minggu, 4 September 2022 (Matius 16:21-28)
Pdt. Suprihatin

Sadar atau tidak Tuhan sudah memberikan yang terbaik dalam hidup kita. Kasih dan penyertaan-Nya tak pernah berlalu. Memang terkadang hal berat dan sukar Tuhan ijinkan terjadi namun itu hanyalah suatu musim kehidupan yang harus kita lewati.
Tuhan memiliki rencana besar (master plan) tetapi manusia sulit memahaminya (ayat 22-23) sehingga seringkali manusia justru berbalik dan meninggalkan-Nya.
Barna, sebuah lembaga survey di Amerika melakukan riset pada tahun 2018 terhadap responden Kristen berusia 19-29 tahun. Hasilnya cukup mengejutkan karena sebesar 59% dari mereka meninggalkan Tuhan.
Hasil survey mengatakan bahwa ini adalah saat dimana ketika kita diperhadapkan dalam keadaan sulit dan iman benar-benar diuji.
Pun dalam sebuah riset lokal yang dilakukan Bilangan Research Center (BRC) dengan judul : Gereja yang Sudah Ditinggalkan, ditemukan fakta bahwa setiap tahun sebesar 7,7% - 10,2% muda-mudi meninggalkan gereja.
Kondisi gereja sejak terjangkitnya pandemi covid-19 menjadi contoh nyata mengenai hal ini. Banyak jemaat yang meninggalkan ibadah di gereja, bahkan ketika keadaan sudah mulai membaik.

Menjadi Pengikut Kristus yang Sejati
Bagaimana caranya agar kita menjadi Pengikut Kristus yang sejati?
1. Berjuang untuk menangkap kehendak dan isi hati Tuhan.
Surat Paulus dalam Filipi 3:10 menyatakan hal ini dengan jelas : Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.
Sejujurnya, perkara mengerti isi hati-Nya bukanlah hal yang mudah. Seringkali justru kita bertanya dan ragu ketika menghadapi pergumulan hidup. Kita perlu belajar dan berjuang mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita. Percayalah bahwa ada rancangan-Nya yang indah di balik tiap pergumulan.

2. Menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Tuhan
Menyangkal diri artinya melupakan kepentingan sendiri. Sebaliknya kita dituntut menundukkan diri dan mengutamakan kepentingan Tuhan atas hidup kita karena hidup kita sepenuhnya milik Tuhan.
Memikul salib dan mengikut Tuhan berbicara tentang kerendahan hati dan komitmen.
Perkara memikul salib identik dengan penderitaan yang sangat mungkin terjadi dalam hidup kita namun percayalah bahwa penderitaan itu tidak akan melebihi kekuatan kita.
Mengikut Tuhan ibarat kereta api dan rel. Hidup kita seharusnya terus menempel pada relnya Tuhan. Kalau lepas dari rel maka akan rusak dan celaka.

Dalam hidup kekristenan, hendaknya kita terus memastikan apakah sudah menjadi pengikut sejati atau belum? Banyak orang melabeli dirinya pengikut Kristus namun menjalani hidup jauh dari standar Tuhan.
Dalam ayat 25, ada standar Tuhan yang tinggi yaitu kita dituntut untuk menyerahkan hidup secara total kepada Tuhan.
Ayat 26 menyatakan alasannya, yakni karena Tuhan begitu berharga dibandingkan apapun yang ada di dunia ini.
Wycliffe mempertegas ayat ini dengan pernyataan : Jangan hendaknya menukar Tuhan dengan hal-hal duniawi yang fana.
Apa yg engkau anggap berharga dalam hidupmu? Anak, harta, jabatan?
Manusia seringkali keliru karena menganggap hal berharga adalah sesuatu di luar dirinya, padahal semuanya itu tidak akan dibawa kelak ketika pulang ke rumah Bapa.
Waktu dan kesempatan adalah hal berharga yang Tuhan berikan agar kita terus mempersembahkan hidup kepada-Nya, namun ironisnya banyak orang justru menukar waktu untuk sesuatu yang fana.

Refleksi
Ketika Tuhan masih memberi waktu dan kesempatan, mari kita terus memastikan bahwa kita adalah pengikut Kristus yang sejati. Teruslah berjuang dalam mengenali isi hatiNya, hidup sepenuhnya dalam ketundukan, dan mempersembahkan hidup dalam kesetiaan iman kepada-Nya. Amin.
Khotbah selengkapnya dapat disaksikan melalui tayangan ulang di link facebook berikut :
atau melalui link instagram berikut :



Comments