top of page
Search

Membangun Keluarga Allah yang Kokoh

  • Writer: Ps. Edi Lastra
    Ps. Edi Lastra
  • Aug 14, 2022
  • 2 min read

Ibadah Minggu, 14 Agustus 2022 (Efesus 5:22-33)

Ibadah Pemberkatan Nikah Sdr. David Yonathan & Sdri. Esther Lie

Ps. Edi Lastra



Lembaga pernikahan dan keluarga diciptakan dan dirancang oleh Tuhan sendiri. Oleh karenanya pernikahan dan keluarga menjadi sesuatu yang kudus, sakral, dan penting di mata Tuhan.

Jika kita menilik ke kisah pelayanan Yesus pertama kali, mujizat-Nya tidak terjadi di sebuah KKR besar di gereja, namun di sebuah acara perkawinan di Kana. Ini berarti Yesus begitu memperhatikan keluarga, sehingga pelayanan pertamanya di mulai di sebuah lembaga terkecil yaitu pernikahan.


Memang pernikahan tidak selalu berisi hal mudah dan menyenangkan seperti yang banyak kita saksikan di film dan drama. Pernikahan justru menjadi awal memasuki sebuah perjuangan, situasi, dan masalah yang baru. Namun keluarga ilahi yang terdapat Kristus di dalamnya akan menjadi keluarga yang kokoh.


Keluarga yang Kokoh

Firman-Nya dalam Efesus 5 : 22-23 ini berisi aturan dan pedoman Kristus bagi hidup suami istri dalam menjalani pernikahan.

Ada 3 hal yang membuat keluarga Allah menjadi kokoh:


1. Kasih dan penundukan diri

Bagi isteri -> ayat 22 : Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

Bagi suami -> ayat 25 : Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya


Agar keluarga kokoh, diperlukan kasih dan penundukan diri.

Setiap isteri perlu kerendahan hati untuk menundukkan diri kepada suami. Tunduk disini artinya menghormati dan menghargai suami.

Sebaliknya suami dituntut untuk mengasihi isteri seperti mengasihi dirinya sendiri. Suami tidak boleh semena-mena terhadap istrinya. Suami harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat.


2. Komitmen

Matius 19 : 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Komitmen berarti rela mendedikasikan diri, waktu, cinta kepada pasangan dalam jangka waktu yang panjang. Sampai kapan? Sampai maut memisahkan.

Masalah, keuangan, orangtua, saudara tidak boleh memisahkan. Hanya maut yang memisahkan.

Komitmen berperan penting dalam pernikahan karena menjadi perekat untuk saling memperlengkapi. Dengan komitmen, hubungan suami istri tidak akan mudah kandas.

Dalam KBBI, komitmen berarti tanggung jawab, perjanjian, dan keterikatan.

Seperti perangko yang menempel erat pada sebuah amplop, jika dipisahkan akan rusak.


3. Kedekatan kepada Tuhan

Suatu kali seorang hamba Tuhan melihat sepasang opa dan oma berusia 80 tahun beribadah bersama dengan setia. Apa rahasia kesetiaan mereka? Sang opa menjawab "Saya membawa keluarga saya, istri, termasuk diri saya pribadi untuk dekat dengan Tuhan."

Waktu suami istri memiliki kedekatan dengan Tuhan berarti mereka sedang mengandalkan Tuhan, berserah penuh kepada Tuhan, dan menjadikan Firman Tuhan sebagai bagian dalam hidup mereka.

Tidak mungkin kita memiliki kasih, penundukan diri, dan komitmen jika kita tidak dekat dengan Tuhan.


Refleksi

Mari, sebagai keluarga ilahi, kita terus hidup mengandalkan Tuhan. Hanya dengan dekat kepada-Nya, hati dan pikiran kita diubahkan sehingga kita dimampukan untuk terus menjalani hidup pernikahan dalam kasih, kuasa, kesetiaan, pembelaan, dan kemurahan Tuhan. Dan pada akhirnya hidup kita menjadi berkat, terang dan garam bagi banyak orang sehingga nama-Nya dipermuliakan. Amin.


Khotbah selengkapnya dapat disaksikan di link berikut :

 
 
 

Comments


GJKI Penuaian

Taman Kopo Indah III Blok B3 No.22

Bandung, Indonesia.

Email: gjki.penuaian@gmail.com

Phone: 0898-9155-354

             (Pdt. Edi Lastra, S.Th)

Dapatkan Info Terupdate

Thanks for submitting!

© 2022 GJKI Penuaian 

bottom of page