Kasih Mula-Mula yang Hilang
- Ps. Edi Lastra

- Jul 24, 2022
- 2 min read
Updated: Aug 10, 2022
Ibadah Minggu, 24 Juli 2022 (Wahyu 2:1-7)
Pdt. Edi Lastra, S.Th.

Rasul Yohanes sebagai salah seorang murid yang paling dekat dengan Yesus menjadi alat-Nya untuk berbicara kepada gereja-Nya. Dalam masa pengasingan dan kesendiriannya di Pulau Patmos, Roh Kudus terus menyertai bahkan mewahyukan surat untuk ketujuh jemaat, salah satunya jemaat di Efesus.
Surat ini berisi pujian, kritik, sekaligus janji Kristus kepada jemaatNya. Jemaat di Efesus dipuji oleh Kristus sendiri dalam hal jerih payah, ketekunan, kesabaran, dan pengajaran, namun ternyata Tuhan pun menegur dengan keras dalam hal kasih mula-mula. Kasih mula-mula terhadap Kristus dan FirmanNya mulai luntur di jemaat Efesus.
Ciri Kehilangan Kasih Mula-mula
Keadaan seperti ini pun rupanya seringkali terjadi dalam kehidupan orang percaya saat ini. Apakah kasih saudara kepada Kristus masih sama seperti pertama kali mengenal-Nya?
Jika ada kasih yg tulus, akan ada pengabdian yang ikhlas.
Setidaknya ada 6 ciri ketika kasih mula-mula mulai hilang:
1. Tidak menikmati kehadiran Allah & tidak berpikir tentang Allah.
Banyak orang tidak mengalami dan menikmati hadirat Tuhan, bahkan di saat ibadah. Ibadah seakan menjadi rutinitas dan kehilangan makna sejatinya, yaitu persekutuan yang intim dengan Allah.
2. Tidak lagi datang sebagai anak-anak Allah.
Ketika datang sebagai anak, ada hubungan yang erat. Ada kepercayaan kepada Bapa. Tidak ada keraguan. Kerap kali ketika dlm keadaan sulit tanpa sadar kita menghampiri Bapa bukan sebagai anak. Kita banyak mempertanyakan kesetiaan dan kehadiran Tuhan. Seakan Tuhan tidak mempedulikan dan jauh. Jika datang sebagai anak seharusnya iman percaya kita semakin kokoh bahwa Allah ada dlm setiap musim kehidupan kita.
3. Tidak hidup dalam doa.
Banyak hal menghambat kita untuk memiliki kehidupan doa rutin. Malas, mengantuk, sibuk sering membuat kita menjauhkan kita dari kehidupan doa. Doa itu mengenai disiplin rohani. Itu artinya sesulit dan sesibuk apapun kondisi kita, doa harus terus ada karena doa adalah nafas kehidupan. Di dalam doa ada kekuatan dan jawaban. Doa yang benar mampu mematahkan kemustahilan. Bagaimana dengan kehidupan doa pribadi kita?
4. Tidak kuatir bila tidak menaati Tuhan dan FirmanNya.
Baginya berbuat dosa adalah hal biasa. Tidak merasa bersalah. Ingatlah bahwa dosa selalu manis di awal, namun akhirnya menjadi racun dalam hidup kita. Kisah Adam & Hawa yang jatuh dalam dosa menjadi pelajaran berharga bahwa manusia dipikat dan digoda oleh iblis. Dosa pasti terlihat memikat, namun pada akhirnya mengikat dan menjadi racun dalam kehidupan rohani kita. Perlu adanya Metanoia (bertobat sungguh-sungguh dan berbalik 180 derajat)
5. Sedikit sekali berpikir tentang Yesus.
Hidup di dunia acapkali membuat anak Tuhan kehilangan fokus utama dalam hidup ini. Sibuk mengejar hal duniawi yang fana dan sementara, hingga melupakan hal yang bernilai kekal. Mari belajar memikirkan dan mengutamakan perkara dan nilai-nilai kekekalan.
6. Tidak tertarik lagi kepada pemberitaan Injil.
Tuhan menegur keras karena jemaat Efesus sibuk dengan ibadah dan pengajaran namun lupa akan esensi dan misi gereja, yaitu melaksanakan Amanat Agung sang Kepala Gereja, yaitu mewartakan Injil Keselamatan dan menjadikan semua bangsa murid-Nya.
Refleksi
Mari, sebagai jemaat Kristus kita nyalakan lagi api kasih mula-mula itu. Hidup penuh gairah dalam pengenalan akan Dia, sehingga hidup kita berdampak dan bisa menjadi saksi-Nya sehingga keberadaan kita memancarkan kemuliaan-Nya. Amin.
Khotbah selengkapnya dapat disaksikan melalui tayangan ulang di link berikut : https://www.facebook.com/100082905627415/videos/525214719358110/



Comments