Datang Ke Rumah Tuhan
- Ps. Edi Lastra

- Sep 11, 2022
- 2 min read
Ibadah Minggu, 11 September 2022 (Pengkhotbah 4:17 & 5:1-6)
Pdt. Edi Lastra, S.Th.
Dalam kitab Pengkhotbah ini kita diingatkan mengenai 3 hal penting ketika hendak memasuki rumah Tuhan :

1. Jagalah langkahmu (ayat 17) Memasuki rumah Allah harus dilaksanakan dgn hikmat, bukan sembarangan. Dengan kata lain, kita harus mempersiapkan diri secara rohani sebelumnya. Persiapkan dengan baik dalam hal waktu, pakaian, terlebih hati kita.
Mazmur 119:101 Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu. Pemazmur memperingatkan kita agar menjaga langkah kita supaya tidak terjebak dalam kejahatan. Tidak sepatutnya orang percaya hidup mendua hati. Di satu sisi melangkah ke dalam rumah Tuhan, di sisi lain melangkah di jalan berdosa.
Mazmur 1 : 1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh. Hati-hati dengan langkah hidup kita karena setiap langkah kita berbekas. Setiap jejak langkah akan menjadi kesaksian yang memuliakan atau mempermalukan nama Tuhan. Hiduplah dalam pimpinan Tuhan senantiasa.

2. Mempersiapkan telinga untuk mendengar / menjadi pendengar yg baik (ayat 17) Mendengar disini berarti juga mentaati. Artinya orang percaya dituntut untuk tidak sekedar mendengar, namun lebih daripada itu yakni menjadi pelaku Firman. Orang benar yang datang ke rumah Tuhan dengan ketaatan, akan mendasari hidupnya dengan tingkah laku etis dan moral yang baik. Sedangkan orang-orang bodoh akan datang beribadah dengan hati yang tidak bertobat.
Dalam Kisah Para Rasul 17:11 dikatakan bahwa orang Yahudi di Berea lebih baik hatinya daripada orang Yahudi di Tesalonika karena mereka menerima Firman dan menjadi pelaku Firman. Kadang orang Kristen hanya terpaku menjadi pendengar yang baik, bahkan tidak jarang menjadi kritikus dan wasit di dalam gereja. Fokus mereka hanya mengkritik dan mencari kesalahan. Jika kita datang ke rumah Tuhan dengan hati seperti itu, kita tidak akan mengalami pertumbuhan.

3. Menjaga perkataan (5:1-6) Semakin banyak berkata semakin beresiko untuk menyampaikan hal yang tidak berbobot dan membangun, seperti sumpah serapah, dusta, sembrono, dan fitnah. Belajarlah untuk berpikir sebelum berkata sehingga tidak menjadi jerat dan batu sandungan. Lidah yang kecil ini bagaikan sebuah kemudi yang dapat mengendalikan sebuah kapal yang besar. Ia pun bagaikan sebuah nyala api kecil yang dapat mengakibatkan kebakaran hebat dan memiliki daya rusak yang luar biasa. Jagalah lidah kita.
Bagaimana caranya agar kita dapat menjaga perkataan?
a. Berjalan bersama dengan Tuhan.
b. Hidup dengan kesadaran penuh bahwa Tuhan melihat dan mengawasi perkataan dan perbuatan kita walaupun Dia tidak hadir secara fisik.
Refleksi
Mari kita hidup terus dalam pimpinan Tuhan, sehingga kita dimampukan untuk melangkah, menjadi pelaku Firman-Nya, dan mengendalikan perkataan kita untuk hormat kemuliaan-Nya. Amin.
Khotbah selengkapnya dapat disaksikan melalui tayangan ulang di link berikut : https://www.facebook.com/100082905627415/videos/581671487037086/
Atau melalui link instagram berikut : https://www.instagram.com/tv/CiWeCkfJE9c/?utm_source=ig_web_copy_link









Comments