top of page
Search

Bebas Dari Akar Pahit

  • Writer: Ps. Dickie Willyandi
    Ps. Dickie Willyandi
  • Aug 7, 2022
  • 3 min read

Updated: Aug 11, 2022

Ibadah Minggu, 7 Agustus 2022 (Ibrani 12:15)

Ps. Dickie Willyandi



Akar pahit seringkali dianggap remeh, kecil, dan tidak berbahaya, namun tanpa disadari justru memiliki daya rusak yang luar biasa besar, tidak hanya untuk diri sendiri namun bagi orang lain.


Seseorang yang memasuki hidup pernikahan dengan masa lalu pahit yang belum diselesaikan akan mewariskan generasi yang rusak, lebih dari pada dirinya sendiri.


Kisah hidup berikut bisa menjadi contoh nyata betapa bahayanya sebuah kepahitan:


Ia adalah seorang pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, tidak pernah selingkuh, masa kecilnya baik dan tidak nakal. Namun, semasa kecil, ia adalah anak yang tertolak, ayahnya sangat membencinya karena menganggap ia adalah hasil kutukan. Ia berasal dari keluarga miskin. Usia 18 tahun menjadi yatim piatu. Masa kecil yang diliputi kebencian memberikan andil besar dalam pertumbuhan mental dan kejiwaannya. Bercita-cita menjadi seorang seniman, namun ditolak sebuah fakultas seni di Wina, Austria karena nilainya tidak baik.


Frustasi, yatim piatu, tidak ada uang, hidup setahun di jalanan sebagai gelandangan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Pada saat itu dia sangat benci pada suatu golongan yang hidup dalam kemewahan.

Dalam karirnya sebagai tentara ia dikenal sebagai seorang orator ulung, singa podium, ahli berpidato yang bisa menghipnotis pendengarnya. Yang mengerikan, akibat dendam dan kebencian semasa kecil, sebanyak 6 juta orang Yahudi dia bunuh. Dialah Adolf Hitler.

Masa akhir kehidupan sang diktator pun tragis karena berakhir dengan bunuh diri.



Hati-Hati dengan Kepahitan!

Sebuah kata dalam bahasa Yunani yang menjelaskan hal ini adalah kata “pikria” yang berasal dari akar kata “pik” artinya runcing atau tajam. Ini mengacu pada sesuatu yang memotong dan tajam.

Dalam Kamus Alkitab Yunani-Indonesia karangan Barclay M. Newman Jr, kata akar pahit ini mengacu pada beberapa pengertian seperti: menjadi pahit, bertingkahlaku keras, iri hati, dengki dan sakit hati.

akar pahit adalah sesuatu yang tajam/runcing (iri hati, sakit hati, dengki bahkan kebencian dan tingkah laku keras) yang dapat melukai dan atau merusak orang itu sendiri dan orang lain; teristimewa mereka yang berhubungan dekat dengan orang tersebut. Akar pahit tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang membangun. Ia selalu bersifat merusak/mencemarkan.


Bagaimana caranya lepas dari akar kepahitan? Letakkan hidupmu dalam kasih karunia Tuhan.

Ibrani 12 : 15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.


Bagaimana caranya mengecek apakah hidup kita dalam kasih karunia Tuhan?

Kita bisa menjawab 2 pertanyaan berikut:

1. Dimana engkau meletakkan ketenangan hidupmu? uang, jabatan, harta?

2. Kalau suatu saat hal tersebut diijinkan hilang dari hidupmu, bagaimana responmu?


Jika responmu negatif dan celakanya malah menyalahkan Tuhan, maka engkau belum hidup dalam kasih karunia. Ayub dan Daniel menjadi contoh yang baik dalam hal ini. Mereka meletakkan ketenangan hidup dalam kasih karunia Tuhan.

Ayub tetap menjaga imannya sekalipun segala yang dimilikinya habis. Daniel menjaga imannya ketika dalam situasi mencekam di gua singa.

Ketika hidup dalam kasih karunia Tuhan, kita menyadari semua karena anugerah-Nya, jadi ketika keadaan kita dibawah kita tidak meninggalkan Tuhan, dan ketika berkelimpahan tidak melupakan Tuhan.



Dalam 1 Samuel 15-16 dicatat dengan jelas mengapa Saul tidak diperkenan oleh Tuhan. Saul tidak menjaga hatinya sehingga digerogoti rasa iri, dengki, dan hidup jauh dari kasih karunia Tuhan.

Yakobus 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat


Hal paradoks kita temui dalam diri Daud. Sebagai manusia, Daud seharusnya berhak merasa iri, dengki, marah dan dendam terhadap ayah dan saudaranya. Bayangkan, di tengah momen besar untuk pengurapan raja oleh Nabi Samuel, Daud tidak diperhitungkan. Dia diperintahkan untuk menggembalakan 2-3 ekor domba. Ketika akhirnya dia diurapi menjadi raja pun, Saul beberapa kali hendak membunuhnya. Bukankah wajar bagi Daud untuk memiliki kepahitan? Namun, perhatikan! Daud menjaga hatinya dengan pujian dan penyembahan kepada Allah senantiasa. Tuhan berkenan kepadanya karena Tuhan tidak melihat apa yang dilihat manusia. Ia melihat hati. Tidak heran jika Tuhan berkata bahwa Ia berkenan kepada Daud. Perkenanan-Nya membawa Daud menang melawan Goliath, bahkan menjadi raja Israel.


Refleksi

Mari, sebagai umat tebusan-Nya kita hidup bebas dari kepahitan yang membuat hidup kita tidak berkenan. Hidup dengan menjaga hati senantiasa serta meletakkan hidup dalam kasih karunia Tuhan.


Khotbah selengkapnya dapat disaksikan di link berikut :

 
 
 

Comments


GJKI Penuaian

Taman Kopo Indah III Blok B3 No.22

Bandung, Indonesia.

Email: gjki.penuaian@gmail.com

Phone: 0898-9155-354

             (Pdt. Edi Lastra, S.Th)

Dapatkan Info Terupdate

Thanks for submitting!

© 2022 GJKI Penuaian 

bottom of page